Tag: review-buku

  • A Good Girl’s Guide to Murder oleh Holly Jackson: Pengungkapan Kasus Pembunuhan oleh Anak SMA

    A Good Girl’s Guide to Murder oleh Holly Jackson: Pengungkapan Kasus Pembunuhan oleh Anak SMA

    Penerjemah: Dharmawati Chen | Gramedia Pustaka Utama | 2024 (2019) | fiction, young adult, mystery thriller | 480 hal. | Bahasa Indonesia | 17+


    blurb:

    Kasusnya sudah ditutup.

    Lima tahun lalu, Andie Bell dibunuh pacarnya, Sal Singh. Polisi tahu dia pelakunya. Semua orang di kota tahu dia pelakunya.

    Pippa Fitz-Amobi tumbuh dengan kisah pembunuhan tersebut. Ketika Pip memilih kasus Andie Bell sebagai topik proyek tahun terakhirnya di SMA, ia mulai mengungkap rahasia yang sangat ingin disembunyikan seseorang. Jika pembunuh sebenarnya masih ada di luar sana, seberapa jauh mereka akan berusaha menyembunyikan kebenaran dari Pip?


    Sinopsis (ala Nonania):

    Pippa, seorang murid SMA yang tengah mempersiapkan diri untuk masuk universitas, memilih kasus pembunuhan Andie Bell sebagai Extended Project Qualification atau EPQ-nya. Berangkat dari argumen “Sal tidak bersalah”, Pippa mencoba mengungkapkan kebenaran dalam kasus itu. Menghidupkan kembali kasus itu setelah bertahun-tahun tidaklah mudah—ia harus mengumpulkan informasi yang telah terlupakan bersama dengan matinya Sal, yang diyakini sebagai pembunuh Andie. Di tengah bahayanya proyek yang ia kerjakan, Pippa harus menghadapi berbagai dilema yang menghantuinya.


    Ulasan (dan cuitan lainnya):

    Setelah cukup lama tidak membaca buku dengan genre mystery-thriller, saya memilih “A Good Girl’s Guide to Murder” sebagai bacaan kedua di tahun 2025. Sebenarnya masih ada banyak buku mystery-thriller saya yang belum dibaca, tapi pilihan saya jatuh ke buku ini karena kebanyakan buku dari genre tersebut (yang saya miliki) ditulis oleh penulis Jepang (ehem, tentunya Akiyoshi Rikako dan Minato Kanae) dan buku karya Holly Jackson ini adalah salah satu dari beberapa mystery-thriller terjemahan bahasa Inggris. Selain itu, buku ini juga ramai dibicarakan beberapa waktu lalu. I decided to give this book a try. Jadi, buku ini…

    • Kompleks dengan alur yang penuh teka-teki

    Meskipun buku young adult ini dibawakan dengan bahasa yang sederhana, ceritanya cukup kompleks dan rumit. Membaca buku ini seperti sedang mengupas bawang yang berlapis-lapis, membuka fakta sedikit demi sedikit. Ada banyak tokoh dengan peran dan latar belakang yang berbeda, membuat saya sebagai pembaca kesulitan dalam menerka-nerka, “Siapa yang membunuh siapa? Kenapa dan bagaimana?” Alih-alih merasa adanya plot twist (seperti yang dirasakan pembaca lain dan dimuat dalam ulasan mereka), saya justru merasa cerita novel ini sulit ditebak. Penulis lihai dalam membuat jalan cerita dan saya menyukainya.

    • Tokoh utamanya masih remaja SMA, yang dalam prosesnya akan menemukan dilema tersendiri

    Pippa, tokoh utama dalam buku ini, adalah remaja SMA yang cerdas dan nekat—saking nekatnya, kadang saya merasa dia masih jauh dari kata cerdas. Mengingat Pippa masih anak sekolah, bukan detektif, polisi, atau sebagainya, ada unsur dilema secara emosional yang membuat cerita ini lebih hidup. Pippa menulis proyeknya sebagai bagian dari kegiatan akademik, tetapi proyek tersebut sedikit-banyak memengaruhi kehidupan sosialnya. Dilema emosional ini membuat cerita dan tokohnya lebih dekat dan relate dengan pembaca.

    • Tokoh lain di buku ini memberikan warna dalam cerita

    Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, ada banyak tokoh dalam buku ini. Ada keluarga dan sahabat-sahabat Pippa yang hangat, orang-orang yang mencurigakan, dan yang tak kalah penting adalah kehadiran Ravi Singh, adik dari Sal Singh yang menjadi partner in crime Pippa. Tokoh-tokoh ini berkontribusi dalam jalannya cerita dan memberikan perasaan yang campur-aduk saat membacanya.

    • Detail dan tidak melulu berbentuk narasi

    Saya senang dengan detail buku ini. Meskipun fiksi, penulis menyusunnya seperti kejadian nyata. Contohnya, penulis memberikan tautan (link) berita terkait kematian Andie (yang ternyata tautan berita itu juga fiksi, saya tertipu). Bab-bab dalam buku ini juga sering kali diselingi oleh entri risalah proyek Pippa—yang ditulis Pippa sebagai dokumentasi dan progres penelitiannya.

    • Memuat Isu Sensitif

    Bukan hanya pembunuhan, buku ini memuat isu sensitif seperti rasisme, adiksi, bullying, dan kekerasan seksual. Bahkan, saya merasa buku ini adalah bentuk kritik terhadap hukum yang tumpul dan merugikan kelompok ras yang terdiskriminasi. Klik frasa bergaris bawah berikut untuk melihat trigger warning (dapat mengandung spoiler).


    Kesimpulannya?

    Menurut saya, buku ini rumit (dalam konotasi yang positif). Ceritanya kompleks tetapi dikemas dalam bahasa yang ringan. Pippa, sebagai tokoh utama, digambarkan sebagai orang yang cerdas dan ambisius. Namun, emosi dan kebimbangan Pippa di tengah ambisinya tetap tersampaikan dengan baik. Banyak tokoh yang mencurigakan, sehingga sepanjang cerita akan penuh dengan teka-teki. Ada pula tokoh-tokoh yang membuat cerita ini terasa hangat. Selain itu, buku ini juga mengangkat isu sensitif yang dekat dengan kehidupan saat ini. Dengan segala detailnya, buku ini tetap flowy dan nyaman dibaca. Saya menyukainya dan menilainya 4,5 dari 5.


    Catatan tambahan

    Saat saya mulai membaca buku ini, saya tidak tahu bahwa buku ini adalah bagian dari sebuah serial. Saya baru saja mendapat email dari Gramedia yang berisi informasi pra-pesan untuk buku kedua (versi terjemahan bahasa Indonesia) dalam seri ini, bertajuk “Good Girl, Bad Blood.” Sepertinya saya akan ikut pra-pesan buku tersebut (dan sudah tidak sabar untuk membacanya!)